Sudahkah kita meneladani KH. Ahmad Rifa’i? Jawabannya ada di benak para pengikut setianya. Mari kita runut keteladanan KH. Ahmad Rifai. Mbah Rifa’i seorang penulis kitab produktif hingga beberapa fersi mengatakan, karangannya mencapai 64 kitab. Sedangkan kita hanya penulis SMS. Sebagian besar SMS itu sampah. Hingga tulisan kita tak beratsar alias mubadzir.
Tulisan Mbah Rifa’i menyadarkan manusia Jawa khususnya untuk beribadah sesuai ketentuan syariat. Maka tak heran kalau dulu orang-orang Rifa’iyah disebut Mbudiyah, kata ini berasal dari Ubudiyah atau bermakna orang-orang yang mementingkan ibadah mahdlah. Karena memang ibadah sunah tidak dibahas dalam kitab-kitab KH. Ahmad Rifai. Hingga pada akhirnya pengikutnya sangat mementingkan ketelitian detil rukun ibadah. Efek negatifnya tak jarang rasa was-was menghantui orang-orang yang sangat hati-hati ini dalamngarekso aksoro dan ngarekso lainnya. Dalam mengucapkan bismillah ‘seorang yang hati-hati’ tentu akan mengulang-ulang kata “bis...bis...bis....” hingga imam selesai shalat, bisnya tak datang-datang, walau berberapa kali dipanggil-panggil. Tetapi efek positifnya adalah ibadah dengan panduan ilmu, hingga keyakinan hati mengatakan bahwa ibadah yang dilakukannya sah.
Tulisan kitab KH. Ahmad Rifa’i mempunyai bobot perjuangan yang tak mudah. Menurut salah satu riwayat , waktu itu kertas menjadi monopoli pemerintah Hindia Belanda, apalagi tinta. Sehingga untuk mendapatkan kertas seseorang harus berjuang menemukannya dengan membeli secara sembunyi-sembunyi dari pedagang Cina.
Untuk menulis kitab butuh ilmu yang sudah nyantol dalam hati. Alias tak bisa mengutip satu katapun dari kitab. Karena setiap Haji dicurigai membawa ajaran yang akan membangkitkan semangat kemerdekaan bagi rakyat Nusantara. Hingga semua kitab oleh-oleh dari Timur Tengah akan di tahan oleh pihak pemerintahkafir. Mbah Rifai menulis dengan keterbata-bataan, karena waktu itu tentu hanya temaram sentir yang bisa menemani. Cagak listrik belum dibuat, apalagi kabel dan bolamnya. Coba bayangkan itu....sambil sruput kopi...sedot samsumu....bull...
Sekarang segalanya serba mudah. Kertas, tinta, komputer, mesin ketik, laptop dan segala macam perangkat menulis bukan hal yang sulit. Fasilitas yang sedemikian mendukung itu tak musti menjadi kita produktif dan kreatif. Kita patut bertanya pada diri sendiri, Sudah berapa tulisan kah yang lahir dari buah tangan dan fikiran kita? Pantaskah kita mengaku sebagai pengikut dan murid KH. Ahmad Rifai sedang kita tak pernah meneladani aktivitas yang paling mendominasi dalam kehidupan Mbah Rifai itu: yakni menulis.
Dalam rentang sejarah bapak-bapak kita selalu diceritakan mereka adalah penulis tangan kitab-kitab Mbah Rifa’i. Tetapi menurut saya mereka bukan menulis dan tak bisa dijuluki penulis, tetapi penyalin. Aktivitasnya seperti apa yang dilakukan mesin foto copi. Tak lebih dari itu.
Kita sekarang memasuki rentang kemandulan yang panjang. Kita adalah manusia-manusia konsumtif, sebatas pembaca kitab dan menyampaikannya. Kita tak pernah berfikir melangkah untuk menulis kitab, memikirkan ulang isi kitab, atau menerjemahkannya kedalam bahasa populer, atau lebih kecil dari itu, sekedar menulis catatan harian. Itu peniting!
Secara natural manusia adalah makhluk kreatif. Kreatif itu seperti nasi yang masuk melalui organ pencernaan, hingga makanan yang kita telan menjadi terpisah-pisah. Ada yang menjadi zat yang dibutuhkan tubuh: glukosa, vitamin, protein, dll. Ada yang menjadi ampas tinja yang harus dibuang kekolong WC. Seandainya kita membaca kitab dan menyampaikannya apa adanya seperti dalam kitab, itu laksanan kita makan nasi, pagi-pagi keluar nasi lagi dari dubur. Seharusnya masuk putih, keluar kuning. Alias tidak ada proses kreatifitas pencernaan.
Kita tak mau menulis, padahal bisa dan mampu. Coba kita hitung berapa tahun sudah jeda waktu kemandulan murid-murid Mbah Rifai, sampai kita menemukan murid penulis seperti KH. Khaeruddin Khasbullah, KH. Yahya Dahlan, KH. Ahmad Syadzirin, KH. Mukhlisin Muzarie. Sudah berapa generasi yang tak menulis. Dan Setelah para penulis itu? Tak ada kesinambungannya lagi. Tak ada kemunculannya lagi. Tak ada kemauannya lagi. Dari kita-kita untuk menulis dan mengawali nulis dengan sekedar menulis catatan harian. Tolong Mbah Rifai tetap golongkan kami dibelakang barisanmu, walau kami belum meneladani Mu.
Langkah-langkah
Bagi generasi muda yang mempunyai gairah untuk membangkitkan kembali semangat dan praktek menulis bisa menempuh jalan yang mudah. Adakanlah majalah dinding di manapun tempatnya. Bisa di mushola, masjid, sekolahan. Saya sudah pernah mencoba di diniyah Al-Hidayah Menjangan. Ternyata teman-teman belia sangat produktif dan kreatif. Mereka dalam waktu tiga hari sudah bisa mengumpulkan Puisi, Cerbung, Sekapur Sirih, wawasan dan pengetahuan dan kreasi madingnya memikat penuh warna dan hiasan yang sesuai.
Yang menjadi kendala bagi teman-teman belia adalah bahan bacaan. Kaitannya dengan pernyataan ‘tidak pernah membaca, tidak bisa menulis.’ Maka dirasa perlu untuk mengadakan koleksi buku yang bisa menjadi bahan bacaan dan nutrisi batin mereka. Langkahnya sebenarnya cukup mudah. Buatlah surat permohonan peminjaman paket buku atas nama perpustakaan mushola, sekolah, masjid, TPQ, Diniyah yang ditujukan kepada Perpustakaan Daerah. Jadi modalnya cukup stempel perpustakaan tempatmu dan selembar surat permohonan yang dimasukkan amplop. Tahap pertama, kita akan mendapatkan pinjaman lunak dari Perpustakaan Daerah sebanyak 50 judul buku untuk waktu satu sampai tiga bulan. Judul buku sesuai selera kita. Kalau masa uji coba kepercayaan bisa dilewati, maka bulan-bulan mendatang kita akan mendapatkan 150 judul buku.
Tentu Perpusda sangat bersyukur, karena dapat dibantu mengurangi beban perpustakaan keliling yang seharusnya tiap bulan menjangkau desa kita. Saya sudah beberapa kali memfasilitasi proses pembuatan perpustakaan gratis semacam ini. Problemnya adalah kita tidak bisa menjaga amanah buku-buku yang dipinjamkan, sehingga pihak perpusda kapok meminjamkan bukunya. Dari satu tangan bisa dipinjamkan ke beberapa tangan. Hingga ketika waktu pengembalian sudah tiba. Buku tak terlacak rimbanya. Harus ada penanggung jawab dan ketegasan: hilang satu buku denda dua buku.
Tidak sekedar membaca dari buku pinjaman. Perlu ada diskusi dari kelompok baca, untuk membagi pengetahuan dari hasil bacaan. Setelah itu unek-unek, atau sekedar rangkuman dari hasil bacaan ditulis untuk mading. Setiap pembaca mendapatkan buku gratis, tetapi harus dikasih tugas untuk merangkum semampunya hasil dari bacaannya.
Tidak hanya perpusda yang sanggup kita ajak kerjasama, dari perpustakaan perpustakaan masyarakatpun sangat senang dipinjami buku secara paket. Contoh perpustakaan mandiri terbuka ini adalah taman bacaan Sahara. Semua perpustakaan yang kita temui, juga perpustakaan sekolah kita ajak kerja sama dalam menggalang kegiatan yang bisa merangsang pemuda untuk menulis.
Yang menjadi kendala lain bagi teman-teman muda adalah mereka seringkali seperti dalam sangkar pengawasan ‘para sesepuh.’ Maka harus ada kebijaksanaan dari para sesepuh untuk tidak ‘sedikit-sedikit gak boleh.’ Karena bagaimanapun bentuknya prasangka baik kepada anak muda lebih baik daripada prasangka buruk. Sesuatu yang baru tak harus selalu di suudzani.
Membaca dan menulis adalah kebiasaan yang diajarkan orang tua sejak kecil. Itu saya rasakan ketika keliling-keliling menjalankan perpustakaan bergilir di Yogyakarta. Saya sempat mendekatkan beberapa orang ke perpustakaan untuk kita rangsang agar gemar membaca. Tetapi sampai tiga tahun, aku hanya bisa menyerah. Karena kebiasaan tiga tahun itu tak mampu membuahkan gemar memabaca bagi teman-teman yang ayah ibunya yang tak mau membaca. Maka bagi orang tua harus diusahakan untuk gemar membaca. Apapun bahan bacaannya asalkan bermanfaat. Demi anak cucu kita agar menjadi pembaca. Karena setiap pembaca lebih banyak potensinya untuk menjadi penulis, karena mempunyai bahan yang bisa ditulis.
Paesan, 3.20 WIB. 26 April 2012.
Ahmad Saifullah



0 komentar:
Posting Komentar