RSS
Facebook
Twitter

Jumat, 16 Agustus 2013

Belajar Spiritual Intelligence dari Tukang Becak (1)




By M. Suyanto
Dalam seminar yang diadakan Beritanet.com dalam rangka hari jadi satu tahun, berita online tersebut, diawali dengan rangkaian pidato sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh General Manager PT Telkom Kandatel Yogyakarta, Ir Nyoto Priyono MM dan Depkominfo Dr Ir Ari Santoso DEA. Sambutan yang paling menarik menurut saya adalah sambutan berikutnya yang disampaikan oleh Pak Gondowijoyo, pemilik Penerbit Andi dan sekaligus Pimpinan Beritanet.com. Sambutan Pak Gondo menegaskan pentingnya membangun harkat hidup dan martabat bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan. Hidup harus mempunyai nilai bagi masyarakat, kemudian Pak Gondo menceritakan tentang seorang ibu yang berasal dari Malang. Ibu tersebut selalu setia pergi ke kantor mengendarai becak, meskipun ibu tersebut mempunyai mobil. Para tukang becak kenal dengan ibu tersebut. Tukang becak dekat dengan Sang ibu tersebut. Hari itu terasa sepi, biasanya Ibu tersebut pagi dengan tukang becak dan sore pulang dari kantor juga dengan tukang becak, tetapi Ibu tersebut tidak kelihatan. Tukang becak menunggu-nunggu, tetapi tidak muncul juga. Tukang becak rindu dengan ibu tersebut untuk selalu ingin bersamanya, mengobrol mulai dari keluarga sampai pekerjaan. Para tukang becak merasakan dihargai, dimanusiakan, karena biasanya para tukang becak itu merasa dikesampingkan oleh pemerintah atau oleh sebagian kita. Kadangkala digusur, tidak boleh mengendarai becak di jalan tertentu, dilarang keras. Seminggu sudah kerinduan yang dinantikan para tukang becak belum terobati, karena ibu yang ditunggu-tunggu tersebut belum muncul juga. Para tukang becak memperoleh kabar, ternyata ibu tersebut menderita sakit. Tidak begitul lama Sang ibu yang dijadikan tempat berkeluh kesah dan tempat mengobrol tersebut telah dipanggil Pemiliknya, Tuhan Yang Maha Esa. Para tukang becak tersebut merasa kehilangan orang yang selama ini menghargainya. Pada saat pemberangkatan menuju pemakaman terasa sepi, tidak seperti pemakaman orang terkenal yang dihadiri tamu yang bermobil berderet-deret, kadangkala tidak berdoa, tetapi mengobrol ke sana ke mari, kadangkala mengobrol masalah institusinya, masalah bisnisnya, kadangkala di situlah mereka dapat bertemu kawan selevelnya. Tidak kelihatan para tukang becak, barangkali para tukang becak itu baru mencari rezeki untuk dapat menghidupi keluarganya, tetapi saat jenazah diberangkatkan tiba-tiba berdatangan bukan hanya satu tukang becak, tetapi puluhan tukang becak dengan becaknya menghantarkan pemakaman ibu tersebut. Para tukang becak itu tidak saling mengobrol, tetapi saling menangis, mengenang jasa Ibu tersebut. Meskipun kecil, tetapi sangat membekas di hati para tukang becak. “Ibu memilih naik becak daripada naik mobilnya.” kata salah seorang tukang becak dengan mata yang berkaca-kaca. “Ibu itu orangnya dermawan,” kata kawannya sambil mengeluarkan airmatanya. “Ibu itu nguwongke tukang becak,” kata tukang becak yang lain sambil mengusap air matanya. Selamat jalan ‘Ibu Tukang Becak’ menemui Sang Penciptamu, semoga jasamu tak terlupakan. Kami selalu merindukan lahir Ibu-ibu tukang becak sesudahmu. Doa yang sederhana dari para tukang becak. Saya yakin doa itu adalah doa yang dapat menembus langit dan sangat didengarkan oleh Tuhan Sang Maha Pendengar. 

Mungkinkah Atlantis Yang Hilang Itu Adalah Indonesia?




Rekan-rekan yang suka membaca atau mempelajari buku-buku tentang migrasi manusia modern berdasarkan analisis genetika molekuler (DNA), pasti pernah membaca nama Stephen Oppenheimer.
Oppenheimer adalah salah satu tokoh utama bidang ini, yang produktif menuliskan hasil-hasil risetnya. Saat ini, Oppenheimer yang semula seorang dokter anak dan pernah bertugas di Afrika, Malaysia, dan Papua New Guinea; adalah research associate di Institute of Human Sciences, Oxford University.

Salah satu bukunya yang terkenal “Out of Eden : the Peopling of the World” (2004). Ini adalah sebuah buku yang komprehensif tentang sejarah penghunian semua daratan di Bumi oleh manusia modern berdasarkan analisis DNA pada semua bangsa.

Oppenheimer memang pernah terlibat dalam suatu proyek raksasa untuk pemetaan genome manusia seluruh dunia. Dari situ ia mendapatkan data untuk menyusun bukunya. Melalui buku ini, kita bisa menebak dengan mudah bahwa Oppenheimer adalah seorang pembela pemikiran migrasi manusia : Out of Africa, dan menyerang Multiregional.

Namun kita tidak akan membahas buku tersebut, kita akan membahas tentang bukunya yang lain, yang menyulut perdebatan.

Tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku yang menggoncang kalangan ilmuwan arkeologi dan paleoantropologi,”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”.

Buku ini penting bagi kita sebab Oppenheimer mendasarkan tesisnya yang kontroversial itu atas geologi Sundaland. Secara singkat, buku ini mengajukan tesis bahwa Sundaland adalah Taman Firdaus (Taman Eden), suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, lalu para penghuninya mengungsi ke mana-mana : Eurasia, Madagaskar, dan Oseania dan menurunkan ras-ras yang baru. Dari buku Oppenheimer inilah pernah muncul sinyalemen bahwa Sundaland adalah the Lost Atlantis – benua berkebudayaan maju yang tenggelam.

Tesis Oppenheimer (1998) jelas menjungkirbalikkan konsep selama ini bahwa orang-orang Indonesia penghuni Sundaland berasal dari daratan utama Asia, bukan sebaliknya. Apakah Oppenheimer benar? Penelitian dan perdebatan atas tesis Oppenheimer telah berjalan 10 tahun. Disini kita akan membahas beberapa perdebatan terbaru. Sebelumnya, sedikit tentang ringkasan tesis Oppenheimer (1998) itu.

Dalam “Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia”, Oppenheimer berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang dari Sundaland. Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi.

Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut dengan menyurutnya Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland.

Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan muka laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi. Terjadilah gelombang besar migrasi ke arah Eurasia.

Oppenheimer melacak jalur migrasi ini berdasarkan genetika, linguistik, dan folklore. Sampai sekarang orang-orang Eurasia punya mitos tentang Banjir Besar itu, menurut Oppenheimer itu diturunkan dari nenek moyangnya. Hipotesis Oppenheimer (1998) yang kita sebut ”Out of Sundaland” punya implikasi yang luas.

Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur Tengah, tetapi justru di Sundaland. Adam dan Hawa bukanlah ras Mesopotamia, tetapi ras Sunda!. Nah…implikasinya luas bukan?

Hipotesis Oppenheimer (1998) segera menyulut perdebatan baik di kalangan ahli genetika, linguistik, maupun mitologi. Kita akan meringkas beberapa perdebatan pro dan kontra yang terbaru (2007-2008). Di buku-bukunyanya yang terbaru (Out of Eden, 2004; dan Origins of the British, 2007), Oppenheimer tak menyebut sekali pun tesis Sundaland-nya itu.

Sanggahan terbaru datang dari bidang mitologi dalam sebuah Konferensi Internasional Association for Comparative Mythology yang berlangsung di Edinburgh 28-30 Agustus 2007.

Dalam pertemuan itu, Wim van Binsbergen, seorang ahli mitologi dari Belanda, mengajukan sebuah makalah berjudul :

”A new Paradise myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer’s Thesis of the South East Asian Origin of West Asian Core Myths, Including Most of the Mythological Contents of Genesis 1-11”.

Makalah ini mengajukan keberatan-keberatan atas tesis Oppenheimer bahwa orang-orang Sundaland sebagai nenek moyang orang-orang Asia Barat. Binsbergen (2007) menganalisis argumennya berdasarkan complementary archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan comparative mythological perspectives.

Menurut Binsbergen (2007), Oppenheimer terutama mendasarkan skenario Sundaland-nya berdasarkan mitologi. Pusat mitologi Asia Barat (Taman Firdaus, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kain dan Habil, Banjir Besar, Menara Babel) dihipotesiskan Oppenheimer sebagai prototip mitologi Asia Tenggara/Oseania, khususnya Sundaland.

Meskipun Oppenheimer telah menerima tanggapan positif dari para ahli arkeologi yang punya spesialisasi Asia Tenggara, Oppenheimer tak punya bukti kuat atau penelitian detail untuk arkeologi trans-kontinental dari Sundaland ke Eurasia.

Binsbergen (2007) menantang hipotesis Oppenheimer atas argument detailnya menggunakan comparative mythology. Berikut adalah beberapa keberatan atas hipotesis tersebut :
(1) Keberatan metodologi (bagaimana mitos di Sundaland/Oseania yang umurnya hanya abad ke-19 AD dapat menjadi nenek moyang mitos di Asia Barat yang umurnya 3000 tahun BC?)

(2) Kesulitan teoretis akan terjadi membandingkan dengan yakin mitos yang umurnya terpisah ribuan tahun dan jaraknya lintas-benua, juga yang sebenarnya isi detailnya berbeda

(3) Pandangan monosentrik (misal dari Sundaland) saja sudah tak sesuai dengan sejarah kebudayaan manusia yang secara anatomi modern (lebih muda daripada Paleolitikum bagian atas)

(4) Oppenheimer tak memasukkan unsur katastrofi alam yang bisa mengubah jalur migrasi manusia

(5) Mitos bahwa Banjir Besar menutupi seluruh dunia harus ditafsirkan atas pandangan dunia saat itu, bukan pandangan dunia seperti sekarang.

Dalam pertemuan comparative mythology sebelumnya (Kyoto, 2005, Beijing 2006), Binsbergen mengajukan pandangan yang lebih luas dan koheren tentang sejarah panjang Old World mythology yang mengalami transmisi yang komplek dan multisentrik, tak rigid monosentrik seperti hipotesis Oppenheimer (1998). Winsbergen juga mendukung tesisnya itu berdasarkan genetika molekuler menggunakan mitochondrial DNA type B.

Itulah sanggahan terbaru atas tesis Oppenheimer (1998). Dukungan terbaru untuk hipotesis Oppenheimer (1998), baru-baru ini datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebagian merupakan rekan sejawat Oppenheimer.

Kelompok peneliti dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul:

“Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia”
(Soares et al., 2008)

dan

“New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).

Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.

Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu.

Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya muka laut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.

Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya.

Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oseania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.

Oppenheimer dalam bukunya “Eden in the East” (1998) itu berhipotesis bahwa ada tiga periode banjir besar setelah Zaman Es yang memaksa para penghuni Sundaland mengungsi menggunakan kapal atau berjalan ke wilayah-wilayah yang tidak banjir.

Dengan menguji mitochondrial DNA dari orang-orang Asia Tenggara dan Pasifik, kita sekarang punya bukti kuat yang mendukung Teori Banjir. Itu juga mungkin sebabnya mengapa Asia Tenggara punya mitos yang paling kaya tentang Banjir Besar dibandingkan bangsa-bangsa lain.

Nah, begitulah, cukup seru mengikuti perdebatan yang meramu geologi, genetika, biologi molekuler, linguistik, dan mitologi ini. Pihak mana yang mau didukung atau disanggah ? Sebaiknya, masuklah lebih detail ke masalahnya agar argument kita kuat, begitulah menilai perdebatan.

Sumber :
Awang H. Satyana - atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.com

JEJAK WARGA RIFAIYAH PEKALONGAN




Suatu hari beberapa pemuda berkerumun asyik menghabiskan sore menunggu maghrib tiba. Mereka bercengkrama, sesekali saling ejek, juga terlihat di sela-sela jarinya terselip rokok. Tiba-tiba terdengar suara “kletek kletek klek klek” sontak saja mereka berhamburan melarikan diri laksana para teroris yang lagi diburu detasemen 88.

Diantara mereka mampu melarikan diri, sedang beberapa pemuda terlanjur kepergok Sang Blawong. Perokok itu saking paniknya memasukkan rokok ke sakunya. Tak mungkin melempar putung rokok ke arah depan, samping, karena sudah terlanjur ada Kiai yang sangat ditakuti karena kharismanya. Sampai jelang akhir perjumpaan dengan sang Kiai pemuda tetap saja diam sambil menahan rasa panas api. Dan jeritanpun meledak saat beberapa langkah kiai meninggalkan sisa-sisa kerumunan itu. “aduuuuuhhh….” Sambil lari terbirit-birit

Tentu anda akan mengira-kira siapa Sang Blawong itu? Asal jangan sampai mengusik jelang tidur anda. Tak usah dijawab sekarang. Masih banyak cerita tentang beliau. Yang jelas dia salah seorang tokoh Rifaiyah kharismatik dari Pekalongan yang lahir pada 1334 H / 1915 M di dukuh menjangan. Waktu itu masa Indonesia belum lahir. Kemerdekaan masih diperjuangkan. Dan kita semua masih berdiam di negara yang punya julukan Hindia Belanda. He…he…jadi kita mendiami dua negara ya…Hindia dan Belanda…tentu bukan itu. Maksudnya kakek-nenek kita memang benar-benar mendiami negara yang bernama Hindia Belanda sebelum negara ini dinamai Indonesia.

Belum juga mengetengahkan siapa ibu–bapaknya malah ngelantur kemana-mana. Oke..deh..yang jelas Beliau bukan sejenis Isa Almasih jadi kelahirannya pasti melalui prosesi dua orang yang melakukan reproduksi, yang bapak bernama KH. Abu Hasan dan ibunya bernama Wasri. Setujuuuu!!! Ya jelas setuju lah. Wong saya yakin pembacanya belum ada yang tahu…he..he…pisss coy.

Abu Hasan bisa berarti bapaknya Hasan. alias Abu Hasan itu bukan nama sejak lahir, tapi nama kedua seseorang ketika mempunyai anak pertama yang bernama Hasan. Kok bisa ya…karena memang dulu ada tradisi seseorang dinamai dengan anak pertamanya. Semacam tradisi di Jogja, kalau awewe sudah disunting lelaki, maka lazim namanya berubah menjadi nama suaminya, misalnya Ibu Fadlan, Ibu Sumito, dll. Makanya kalo gak ingin berubah nama jangan cari pacar orang Jogja ya.

Beliau hampir disegani di setiap tempat yang disinggahi, dan keseganan masyarakat pada waktu itu hampir tak masuk akal untuk nalar manusia abad 21. Menurut pengakuan salah seorang muridnya, “Dalam setiap musyawarah di desa Paesan, hampir beliau saja yang bersuara dan H. Abdul Karim. Lainnya diam terpaku lalu samina wa athona.”
Hasil keputusan dalam musyawarah kampung tentang berbagai hal sangat dimaklumi disetujui begitu saja oleh musyawirin. Karena sebelumnya Sang Blawong Ahmad Nasihun sudah lebih dulu keliling rumah penduduk untuk minta pendapat beberapa orang yang dianggap bisa diajak berfikir.

Menurut H. Fakhrudin yang juga murid K. Ahmad Nasihun, menyatakan, “bahwa pola fikir Kiai Nasihun itu jarang dipunyai Kiai sekarang. Dulu kalau ada rencana punya hajat, entah itu membangun masjid, tajuk, dll beliau selalu menyaring pendapatnya orang-orang yang punya gagasan dalam maupun sebelum musyawarah. Walaupun seseorang itu dianggap oleh masyarakat sebagai orang awam, kalau gagasannya bagus akan dipakai. Kalau sekarang kan tidak! Walaupun gagasannya baik kalau dia orang miskin tentu idenya tak akan dipakai. Sudah kaping-kaping musyawarah hanya mendengarkan ide-ide orang kaya, sehingga rakyat jelata trauma untuk urun rembug.” Tegas muallim Pondok Pesantren Insap Pekalongan dari tahun 70an hingga sekarang.

Yang menjadi heran banyak muridnya, walaupun beliau kharismanya begitu menundukkan tetapi Ahmad Nasihun selalu berusaha mengakrabi anak-anak. Di masjid Istiqomah Paesan Kedungwuni Pekalongan beliau sering bercanda mengajak anak-anak untuk belajar qiro (qori). Hampir pengajiannya selalu dihadiri anak-anak. Pengajian pada masa Kiai penggagas koperasi Syajarun Thayyibatun ini dihadiri semua umur. Dari anak-anak sampai kakek-kakek.

Para jamaah pengajian yang belum mempunyai kitab diperintah K. Ahmad Nasihun untuk menulis. Dengan telaten Kiai yang juga tukang kayu ini menuliskan bait demi bait kitab tarajumah yang dikaji untuk ditiru para murid. Menurut pengakuan H. Fahruddin, “setiap pengajian harus mencapai satu koras. Pengajian beliau minimal dua jam.” Sambil berusaha meyakinkan penulis. Penulis hanya manggut-manggut mengiyakan. “jadi setiap ngaji kita punya seratan kitab sebanyak satu koras.” Tambahnya.

Suatu pagi, matahari juga belum menampakkan wajahnya. Bunyi hentakan kaki, dan nafas tersengal terdengar beriringan dengan bunyi kicauan burung yang bersahutan. Embun pagi masih terus saja turun. Hentakan kaki itu terus melangkah dan terdengar semakin menjauh. Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah langgar (mushola) “Sriiin” sontak saja orang yang dipanggil dari kejauhan bergegas balik arah menuju suara. Terdengar nafas tersengal, karena ia berlari untuk menuju seseorang yang memanggilnya “enten nopo yai…” “mending awakmu olah raga nang kene bae.” “maksude pripun…” “yo iku kolah langgar diseni.” Maksudnya agar orang itu tak jauh-jauh olahraga, cukup dengan menimba air diisikan ke kolah bisa juga sebagai ikhtiar olah raga. Dengan tujuan seseorang bisa olah raga sekaligus oleh pahala.

Beliau di terima oleh masyarakat luas dari semua jenis golongan dan ormas. Walau pada waktu itu jamaah Rifaiyah di beberapa daerah mendapatkan perlawanan dari orang-orang yang kurang setuju dengan doktrin kitab Tarajumah tetapi Ahmad Nasihun malah dipercaya oleh orang-orang NU untuk memegang peranan dalam kepengurusan masjid jami NU menjangan. Beliau juga yang mempelopori kegiatan-kegiatan masjid jami itu.

Seorang figur yang penuh kebijakan dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat, kalimat itu yang mungkin sedikit bisa menggambarkan karakter selanjutnya. karena dalam masyarakat Rifaiyah sendiri tak jarang timbul gejolak. Entah disebabkan karena masing-masing figur ingin berperan, atau karena hal lain.

Yang jelas di Paesan Kedungwuni Pekalongan sendiri dapat ditengarai ada ‘kerenggangan’ warga Rifaiyah, pasca dibangunnya beberapa mushola selain masjid, seperti Mushola Mustakim, Langgar Fadhilah. Keberadaan dua mushola itu, waktu itu mengurangi konsentrasi kegiatan warga dalam beribadah di tempat tertentu, mengingat warganya masih sekitar 80 rumah.

Langkah yang diambil Nasihun adalah dengan mengajak musyawarah semua warga membentuk kesatuan kepanitiaan yang akan mengurusi semua pembangunan yang akan direncanakan di Paesan. Kemudian juga pembagian batas wilayah masing-masing jamaah. Maksudnya sebagai usaha pemerataan jamaah untuk setiap tempat ibadah.

Nasihun juga melarang berdirinya shalat jumat di Paesan Utara yang dulu sempat direncanakan. Alasannya tentu agar konsentrasi beribadah di tempat tertentu membantu kesatuan lahir batin warga Rifaiyah.

Kita tahu, kiai satu ini mempunyai keluasan ilmu dan pemantik kreatifitas. Karena hampir pemikirannya melampaui zamannya. Diantaranya beliau menggagas memperbanyak Kitab Tarajumah dengan teknologi cetak. Nasihun menyempatkan belajar ke jakarta untuk hal yang satu ini. Kemudian pencetakan kitab tarajumah dilanjutkan oleh teman seperjuanggannya KH. Rahmatullah sampai diwariskan kepada putranya yang bernama Ahmad Rifai.

Pada masa-masa selanjutnya dapat ditengarai dengan munculnya kecanggihan teknologi photocopy yang meremukkan semangat santri-santri untuk menuliskan kitab-kitab tarajumah. Dulu hampir sebagian besar santri di pesantren Rifaiyah selalu menulis kitab tarajumah, bahkan jika orang kampung berminat, maka santri tak segan menjualnya untuk ongkos tholabul ilmi.

Metode menulis ini koheren dengan teori ingatan, yang kurang lebih berbunyi: “orang yang hanya membaca maka daya serap ingatannya atas materi yang dibacanya hanya 20 persen, seandainya ditambah dengan menuliskannya bisa mencapai 50 persen, sampai menginjak prosentase 90 persen jika seseorang membaca, menulis, dan mengajarkannya.
Pengakuan tentang masalah ingatan hafalam kitab tarajumah ini juga dilontarkan H. Abdul Kholik menanggapi kenyataan turunnya minat untuk mempelajari kitab tarajumah. Beliau heran bahwa generasi dirinya kalau hafalan sampai sekarang masih pada nyantol (ingat). Tetapi generasi anak-anaknya walaupun pernah hafal menginjak beberapa tahun saja sudah hilang seperti ditelan usia.

Kok berteori sih…tahan…tahan…konak mu berteori, beropini, itu menggurui gak baik bagi pembaca yang udah kebal teori. Oke deh kita lanjut kepada moyang kita yang kreatif itu. Kira-kira apalagi ya…kreativitasnya.

Kiai Nasehun pada awalnya berguru kepada Kiai Samian yang dikenal juga dengan Mbah Siti, Srinahan Kesesi. Nama Samian sekarang diabadikan oleh Kiai Abdullah Hamzah untuk nama pondok Pesanten Rifaiyah di Srinahan Kesesi, dengan As-Samiani. Pantas saja santri sana punya pendengaran semua…ya jelas tho ya…dalam hidup memang harus banyak mendengarkan dari pada banyak mbacot. Allah aja paling suka menyebut dirinya Samiun Bashir bukan Basirun Sami. Dengarkan dulu baru baca dan teliti.

Walaupun tidak di sahara padang pasir, Nasihun remaja tetap saja haus ilmu pengetahuan dan agama, selepas nyantri di Srinahan Kesesi di mengembara ke alam yang lebih kota, dia singgah beberapa tahun di Pesantren Watesalit Batang. beliau berguru kepada K. Imam Basyari. Saking hausnya, ia juga setiap minggu ngaji kepada KH. Badjuri Kretegan Kendal. Selepas memperdalam kitab-kitab tarajumah, beliau masih ingin menimba ilmu-ilmu dalam kitab salaf, makanya dengan niat, tekat bulat Ahmad Nasihun melesat sampai di Pesantren Tebuireng Jombang hingga tamat. Disana beliu nyucup barakah ilmu kepada KH. Hasyim Asyari, pendiri ormas Nahdlotul Ulama ini.

Jebol dari pesantrennya Gus Dur, beliau mulai menjejakkan kaki di Pekalongan, mengulurkan tangan melayani masyarakat, dan menyingsingkan lengan baju mempelopori berbagai macam bidang yang sangat varian. Diantaranya beliau membangun ekonomi umat, memberi peluang kerja kepada banyak orang dengan membuka usaha konveksi, pertukangan kayu, dan batik.

Sebagaimana diceritakan Nur Aini, salah satu putri pertama K. Nasihun, beliau memberikan tugas kepada Aini untuk mengacunt segala hal yang berkenaan dengan usaha beliau, khususnya batik. Hal itu dirasakan isteri KH. Abdul Aziz ini sebagai pendidikan secara langsung, sampai sekarang ilmu itu sangat bermanfaat, karena hingga sekarang Bu Nyai ini mengelola distributor batik yang jangkauan pemasarannya hingga luar kota. Dari hasil usahanya ini, beliau dapat membiayai kelangsungan pendidikan keenam putra-putrinya hingga lulus.

Strategi dakwah sambil dagang diwariskan K. Nasihun dari sejak dimulainya pengajian selapanan yang diselenggarakan di Masjid Istiqomah. Pengajian selapanan ini dihadiri oleh warga masyarakat Rifaiyah dari berbagai penjuru Pemalang, Pekalongan, Batang. mereka berbondong untuk ngaji, sekaligus membawa dagangannya masing-masing. Selepas pengajian mereka bertukan informasi dan bertransaksi di tempat tertentu di masing-masing perumahan warga yang bersangkutan.

Diantara jamaah pengajian ada yang kulakan pakaian di Paesan, ada yang menawarkan tapih batik hasil karya tangan sendiri, ada beberapa pakaian yang di kulak dari pasar kemudian ditawarkan kepada warga turut omah (dor to dor). Hingga bekas rumah K. Nasihun sendiri sekarang sebagai tempat kulakan batik selepas pengajian selapanan Ahadan berakhir.

Kiai Nasihun dalam membangun organisasi memang handal. Beliau dalam beberapa tahun sempat mengkoordinir setiap dukuh rifaiyah agar mengirimkan pemuda untuk dikader, dan diberi pendidikan keorganisasian dan kepemimpinan. Beliau juga berfikir tentang perlunya membentuk organisasi sebagai wadah penyatuan visi orang-orang Rifaiyah.

Ceritanya berawal dari tiga anak didik Kiai Nasihun yang dikirim ke tiga pesantren Rifaiyah: Pesantren Purwosari, Kretegan, dan Batang. Suatu saat selepas lebaran. Bapak Koperasi Rifaiyah ini memanggil ketiga anak santri tersebut. Nasihun mengajukan pertanyaan: “rokok itu hukumnya bagaimana?” ketiga santri itu masing-masing menjawab berbeda. Yang pertama halal, kedua haram, ketiga makruh, dengan dalil dan alasan yang mereka kemukakan. Sampai ujung-ujungnya Nasihun tertegun dan berfikir tentang nasib santri tarajumah (rifaiyah) ke depan, kalau selalu terjadi khilafiyah. Perbedaan bisa menjadi rahmat, sekaligus laknat. Maka harus butuh kecerdasan untuk mengelolanya.

Timbullah gagasan untuk membentuk organisasi sebagai langkah menyatukan visi dan mengelola perbedaan agar menjadi rahmat. Nasihun berdiskusi dengan teman sekaligus muridnya, K. Hambali Randudongkal, dan sowan kepada Bapak Carbin yang dirasa bisa memberikan sumbangsih untuk mengelola organisasi, karena beliaulah termasuk sarjana pertama Rifaiyah di Tanahbaya Randudongkal. Sampai lahirlah Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah.



Bersambung…..
Wawancara dengan:
KH. Ahmad Syadzirin, KH. Zaenal Abidin, KH. Ali Nahri, KH. Fakhruddin, KH. Abdul Khamid, Hj. Nuraini, Mbah Saluhi, Abdul Jalil, Alif Ayatullah, Nasir, Mufid Bani Adam.

Paesan tengah, 2 Januari  2010
Ahmad Saifullah Ahsa 

KAFIR-KAFIR MUSLIM



Kata kafir banyak kita jumpai dalam ayat al-Qur’an. Saya yakin setiap ayat kafir mempunyai maksud yang berbeda. Tapi kalau di tilik pengertiannya dalam Mu’jam Mufradat Alfadzil Qur’an, ka – fa – ra, mempunyai arti tertutupnya sesuatu, maka jangan heran kalau penutup buku dinamakan co – ve – r. Juga ketika waktu kecil bapak sering bepergian menenteng tas untuk menyimpan pakaian agar tertutupi, tas itu biasanya disebut ko – pe – r. Bagi petani yang menggali tanah, menanam benih, kemudian menutupinya juga bisa dikatakan sebagai perbuatan kufur.

Dari kecil, saya memahami bahwa ‘kafir’ itu berarti orang yang tak beragama Islam. Tetapi kalau mengartikan kafir dengan pengertian non muslim, maka dengan ge-ernya, hati ini berprasangka buruk bahwa ayat-ayat kafir tidak berlaku bagi saya. Kenapa bersuudzan? Karena itu memfitnah diri sendiri.

Memasuki toko buku, kadang kita menemukan istilah berdialog dengan al-Qur’an, tapi bagaimana mungkin kita berdialog, kalau ayat-ayat kafir tidak kita tujukan kepada diri sendiri.

Kalau kebetulan di rumah kita ada kaca pengilon, sekali-kali kita menatap wajah ini dalam-dalam. Maka di hati terjadi dialog antara aku dengan saya.
Aku bilang: ternyata saya ganteng juga ya… terus ditimpali oleh saya: sayang wajah saya banyak kubangan bekas jerawat…Aku bilang lagi: walau ganteng…udah tua ini gak laku-laku…kemana-mana gak ada yang nawar…lhaa berdialog dengan al-Qur’an itu berarti memposisikan al-Qur’an sebagai kaca pengilon, agar kita bisa berdialog dengan diri sendiri dengan panduan firman Tuhan.

Bukankah kita sepakat, muhasabah itu harus kita lakukan setiap saat. Maka untuk bisa koreksi diri harus menuduhkan ayat-ayat jelek pada diri sendiri. Kalau kafir itu dimaklumkan sebagai ‘kata jelek’, maka kepada yang terhormatnya ‘ayat-ayat kafir’ adalah Saya. Ingat…Jangan ditujukan untuk orang lain, karena semua orang tak mau dikafirkan.

Dalam beberapa ayat dinyatakan: “tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkarinya…” ‘mengingkari’ dalam ayat 89 surat al-Isra ini menggunakan lafadz ku – fu – ra. Maka ketika kebanyakan manusia itu kufur. Apakah kita bagian kecil yang tak kufur…pede amat sih…tentu diriku bagian yang banyak itu. Apalagi kamu!!!! He…he….

Kalau lengkap ayatnya kita baca begini: “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkarinya.” Disana ada indikasi walaupun Allah telah menyodorkan banyak sekali perumpamaan, agar manusia bisa mencerna kebenaran ayat-ayat Allah, tetapi kebanyakan manusia mengingkarinya. Kata mudahnya kafir itu berarti mengingkari datangnya kebenaran ayat-ayat Tuhan dari kitab suci maupun ayat yang terbentang seluas langit dan bumi ini.

Ayat selanjutnya berbunyi begini: “dan mereka berkata: “kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.” Membaca lebih lanjut ayat seterusnya akan mengerti bahwa apa yang diinginkan kafir adalah pembuktian dari Nabi untuk keinginan yang dapat mereka nikmati dan rasakan secara langsung, walau itu mustahil, karena Allah telah menciptakan sunatullah, dan kausalitas alam ini. Kafir terhalang hatinya atas hidayah dan hadiah kebenaran oleh hawa nafsunya.

Katakanlah diantara kita saat ini ada yang menderita diabetes, mudah-mudahan tidak sampai nanti sampai mati. Lha sunatullahnya bilang begini: kalau pangkreas tidak bekerja maksimal memproduksi insulin, dan suplay insulin tak cukup membantu glukosa masuk ke dalam sel-sel. Maka gula darah itu akan menumpuk, karena tugas insulin adalah membukakan pintu-pintu sel. Bagaimana glukosa mau masuk ke kamar sel, kalau pintunya tertutup.

Gula yang tidak digunakan untuk mereproduksi sel itu akan menumpuk dalam kadar yang tinggi. Hingga dokter memvonis sebagai penderita diabetes, atau biasa disebut gula, juga kencing manis. Maka ayat-ayat kauniyahnya akan berujar kalau si penderita ingin gulanya stabil maka harus mengikuti ayat: “dan janganlah kamu tidur setelah makan dalam jeda dua jam. Karena baru saja dirimu dipenuhi gula yang bersumber dari nasi. Maka kalian harus membakarnya dengan berkeringat.”

Ayat lainnya menfirmankan begini: “agar dirimu selalu dalam keadaan sehat yang terjaga maka usahakan tiap hari beraktifitas fisik selama 30 menit, atau lebih lama lebih baik. Tapi kebanyakan orang lalai, dan mengingkarinya” Juga fiman lain yang menganjurkan “agar dirimu selalu menenangkan hati, segala keruwetan hidup adalah anugerah terindah dari Tuhanmu yang apabila kau temukan hikmahnya tentu kalian akan tenang. Apakah kalian tidak berfikir, kalau takdir hidup memang penuh masalah dan ketenangan adalah pilar kesehatan.”

Adapun ayat-ayat kauniyah larangan merusak bumi, dan anjuran mencintai makhluk hidup lainnya, diwahyukan begini: “dan janganlah kamu menebang pohon tanpa menggantinya dengan yang lebih baik, karena sesungguhnya di dalam pohon terdapat manfaat yang banyak bagimu. Oksigen yang menegakkan hidupmu adalah hasil olahan dapur pohon-pohonan yang selama ini kau anggap sebagai benda mati. Sekali-kali tidak, ia adalah makhluk yang bernyawa, juga bersukma yang juga mempunyai hak hidup, hak dicintai, hak dipelihara, maka berbahagialah bagi orang-orang yang bernafas panjang, karena belaian kasih sayang pepohonan.”

Diantara ayat kauniyah lain tentang anjuran mencintai pepohonan, agar kehadiran manusia menjadi rahmatan lil alamin, terdapat dalam surat al-Syajarah, ayat dua yang berbunyi:“wahai orang-orang yang mempunyai akal. Sekali-kali tidak aku ciptakan pohon-pohon ini, kecuali bermanfaat bagi kalian. Akarnya bisa mengikat tanah hingga tidak longsor, juga membantu meresapnya air hujan menjadi air tanah, dan daun-daunnya berkhasiat menyembuhkan macam-macam penyakit karena ulahmu sendiri. Apakah manfaat itu akan kau balas dengan mendlolimi pepohonan itu hingga menjadi madlarat bagi kelangsungan hidupmu. Karena kau akan ditimpa banjir, tanah longsor, kekeringan, terik panas dan kematian. Sekali-kali jangan demikian, karena sesunggunya perbuatan perusakan pohon dan hutan adalah perbuatan orang-orang kafir.

Ayat kauniyah lainnya mengatakan “jangan cemari udara, air, tanah, dengan sesuatu yang meracuninya, karena dengan begitu kalian akan ditimpa longsor, banjir bandang, puting beliung anomali cuaca, dan kematian-kematian.”

Maaf bukan bermaksud menyaingi Musailamah Al-Kadzab, tapi memang itu bunyi ayat-ayat kauniyah yang Allah wahyukan melalui ilmu kedokteran, lingkungan, dan biologi. Bukankah Nabi ketika dipeluk Jibril untuk menerima wahyu pertama disuruh untuk membaca ayat kauniyah, sampai diulangi dua kali: “iqra ya Muhammad.” “ma ana biqoriin” bukan berarti saya tidak bisa membaca, tetapi “apa yang harus aku baca” selanjutnya maksud tersiratnya: “bacalah ayat-ayat kauniyah” baru setelah perintah Jibril ketiga kalinya Nabi disuruh membaca ayat qauliyah: “iqra bismirabbikalladzi khalaq, khalaqal insanamin alaq.” Ila akhirihi…  

Bagaimana penderita diabetes, dan kebanyakan orang yang merusak bumi mengingkari ayat-ayat diatas. Ya tentu dia disebut sebagai kafir, karena mengingkari kebenaran. Kecuali ada kebenaran lagi yang bisa membantahnya secara holistik. Disitu sebenarnya tujuan kenapa mencari ilmu itu diwajibkan dari kandungan hingga kuburan. Supaya manusia selalu menangkap ayat kauniyah, dan mengimaninya, bukan mengkufurinya.

Dulu waktu aku masih terbata mengeja kata, simbah pernah cerita dan agaknya sedang mengedarkan daya waskita, beliau bercerita: “sesuk, tiap wong nduwe gambar hidup. Gambar hidup biso disak saben wong” (besok tiap orang punya bioskop, bioskop bisa disaku tiap orang). Waktu itu saya hanya mengangguk, dan memustahilkan dalam hati ramalan itu. aku merasa dulu terhinggapi kekafiran, karena menyangkal kebenaran yang akan datang, sebagaimana kafirin tak menerima janji adanya hari pembalasan.

Sangkalan atas kebenaran itu bisa datang karena kebodohan. Pada hakekatnya manusia hidup diselubungi kegelapan, dan kebodohan, sehingga ia ingkar, bertabrakan, terjungkal, terpeleset. Bagaimana mungkin kita mengaku hidup di terang benderang, mengetahui segala sesuatu, sedang jumlah bulu ketiak saja kita tak pernah tahu. Kita hanya sempat terkaget saat kuku ini telah panjang, kita tak pernah mengetahui pertumbuhannya. Padahal tangan bagian dari tubuh kita sendiri.

Bagaimana kita merasa tahu, sedang satu menit ke depan saja kita tak pernah tahu nasib kita. Kelemahan pengetahuan manusia sekarang terbatas mempelajari fakta, tak pernah bisa secara sadar mendeteksi nasib manusia masa depan. Bisa tidak kira-kira kita mejadwal waktu beol kita esok hari? Maka bulshit, kalo ada orang yang menjanjikan nasib, apalagi menjamin riski orang lain, sedang nasib hidup mereka di tangan Allah semata. La khaula wala quwwata illa billah.

Kisah Nabi Musa dengan Khidlir cukup memberi teladan kepada kita. Bahwa kebodohan itu kadang membawa kebanggaan diri. Seperti Musa yang mengaku dirinya sebagai hamba paling cerdas (encer ning ndas) saat ditanya seorang pengikutnya. Kemudian kebodohan membuahkan perilaku menyalahkan, mengingkari. Waktu itu Nabi Musa selalu bertanya atas prilaku hamba shaleh yang ganjil itu.

Selanjutnya banyak ayat yang menunjukkan bahwa kekafiran adalah ingkar terhadap kebenaran yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad. Para kafir jaman Nabi seringkali tidak mempercayai akan datangnya hari pembalasan dan akherat. Apa bedanya dengan sekarang? Bedanya orang sekarang di lisannya sering cuap-cuap tentang akherat, tetapi amaliahnya mengingkari adanya akherat.

Kasus yang baru saja kita baca dari buku Gurita Cikeas, menyebutkan bahwa ratusan ulama dan habib diumrohkan oleh pemerintah SBY dengan uang rakyat. Karena kebodohan, dan kekafiran, dalam arti  ibadah seseorang justru berbuah kebuntungan.

Kasus ironi terhangat tentang wakil rakyat yang jauh-jauh mempelajari etika ke Yunani, setelah itu mereka melanggar etika, karena mampir di Turki untuk menonton tari perut dan rekreasi, sekali lagi itu dengan biaya uang rakyat. Itulah bentuk kekafiran, karena ia mengingkari kebenaran yang baru saja dipelajarinya. Atau bahkan kebenaran yang sudah akrab sejak usia SD. Tentang fakhisyah dan maksiat.

Kafirin bukan orang yang tidak membaca kalimat syahadatain, karena membaca syahadat juga bisa dilakukan burung beo, hp juga bisa mengucapkan kalimat syahadatain, malah sehari bisa sampai ribuan kali. Tetapi kartu merah kafir dikeluarkan ketika seorang mengingkari ayat-ayat Allah kauniyah maupun qauliyah.

Aram-aram Rowosari Kendal 19 Januari 2011
Ahmad Saifullah

IMAN ADAT atau IMAN SYARIAT




Dulu, waktu baru menginjak usia sekolah dasar, tentu kita semua pernah merasakan nikmatnya main layang-layang. Betapa terik menyengat ubun-ubun tak terasa. Keringat yang meleleh melalaikan segalanya. Sampai ku kejar layang-layang di tengah jalan lalu lalang sepeda motor tak ku hiraukan. Semua yang membahagiakan tak digubris oleh hati yang sedang gandrung dengan kertas terbang itu.

Tatapan mata selalu berhadapan dengan langit yang biru. Cakrawala yang luas tanpa batas. Membuat pandangan mripat tanpat sekat. Semburat matahari membuat mata menyaksikan keindahan-keindahan yang menakjubkan. Deretan mega-mega yang membentuk berbagai macam goresan. Kadang seperti lafadl Allah, kadang seperti wayang. Aku senang menatap langit tak bertepi itu. Kebiruanmu sungguh indah, kadangkala pula diri langit begitu menyeramkan.

Saat adzan ashar tiba, aku bergegas mengemasi layang-layang. Ingat cubitan Simak kemarin yang masih menyisakan gurat merah. Aku memang bandel. Untuk pergi ke Sekolah diniah saja butuh cubitan cewek. Masih mengganjal juga dihati. Tak mau meninggalkan pekarangan bong cino itu. Di atas ku tatap masih banyak layang-layang bertebaran ‘menggoda iman’.

Kata Simak “menuntut ilmu itu wajib, dan demi kebahagiaan dunia akheratku sendiri.” “apa iya.” Kadang hatiku menyergah. Apanya yang bahagia. Aku makin sengsara aja cari ilmu. Tiap hari di res di depan teman-teman yang selalu meledek dan menertawaiku. Ustadz tak eman lagi melempar kapur, kadang juga penghapus ke arahku. Katanya aku tak boleh guyon. “apanya yang bahagia?” aku bertanya-tanya. “guyon itulah kebahagiaan, buktinya aku bisa tertawa.” Aku berbicara sendiri dalam hati. “tapi kenapa para ustadz melarang kitaguyon. Aneh juga ya katanya ilmu kunci untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akherat.” “tetapi kenapa para ustadz itu gak bisa tersenyum, cemberut terus, kayak orang gak pernah bahagia.”

Eh katanya orang dewasa itu banyak urusan, jadi pantas saja mukanya masam. Semakin tambah umur berarti tambah cemberut dong. Tapi yang jelas wajah mewakili hati. Wajah yang masam berarti hati lagi kelam. Entah lah semakin dewasa seseorang semakin banyak yang dipikirkan. Semakin banyak yang dijumpai, hingga kalau terlena itu semua akan menjadi tabir penghalang bertemunya hamba dengan Tuhannya. Semakin dewasa semakin menjauh dari Yang Maha Dekat.

Aku memasuki rumah. Ruangan dalam rumah kelihatan gelap. Ku raba-raba jalan yang tak terlihat. Tiba-tiba suara manis Simbah menyambut, “nah itu kalau kebanyakan main layangan gitu jadi gelap masuk rumah.” Uh ternyata rumah sumber kegelapan. Langit dan cahaya matahari memancarkan semburatnya sebagai sumber cahaya kehidupan. Cahaya adalah kebenaran. Karena semakin mendapatkan nur, seseorang semakin mendekat dengan kebenaran.

Rumah penghalang buatan manusia yang menghalangi tatapan mata menemukan obyek kebenaran. Rumah adalah sekat yang menabiri masuknya cahaya matahari ke dalam mripat dan lubuk hati. Aku menemukan cahaya saat menatap langit, dan terasa gelap saat memasuki rumah. Itulah yang dialami manusia hingga sekarang.

Waktu bayi aku belum diberi embel-embel apapun. Jadi semua orang bisa menyentuhku, menyayangiku. Ketika bertambah usia. Sekat itu semakin banyak. Hingga orang-orang menjauhiku, bahkan menatap saja tak kuasa dengan alasan ‘bukan mukhrim’. Setelah rumah, ada sekat lagi bernama ruangan, setelah ruang terus kamar. Bersekat yang berlipat menghalangi cahaya kebenaran matahari. Demikian juga kita masuk di organisasi apapun adalah bentuk sekat-sekat yang kalau terlena bisa menjadi penghalang masuknya cahaya kebenaran dalam lubuk hati.

Misalnya kita telah di batasi dengan klaim ‘orang Rifaiyah’ maka klaim itu juga tabir pembatas kemesraan kita dengan warga golongan lain. Baru dinding rifaiyah itu lenyap saat kekeluargaan hubungan kita hanya berstatus sebagai hubungan manusia. Hubungan yang tak memandang golongan, suku, ras, agama sebagai halangan kita untuk mencintai sesamanya.

Rumah yang bernama ‘agama’ pun juga kadang menyempitkan berfikir kita. Kita semua dalam wawasan keberagamaan yang awam, pasti akan melarang orang kristen masuk masjid, dengan alasan takut masjidnya kena najis dan alasan lainnya. Padahal bagaimana mungkin kita tak menerima hamba yang itu juga bagian dari keluarga Allah. Kata Allah dalam hadis qudsinya, bahwa makhluknya adalah semuanya kelurga besar Sang Pengasuh itu.

Sudah maklum juga orang tua kita yang dilahirkan dalam kultur Rifaiyah menolak calon menantu yang ghoiru rifaiyat. Dalam konteks ini bukankah Rifaiyah berfungsi sebagai penghalang datangnya kebenaran yang berbunyi “kalau jodoh itu ditentukan oleh tangan Tuhan, kalau akhlak itu tak ada kaitannya dengan apakah ia Rifaiyah atau bukan. Kalau cinta kasih itu datang bukan hanya dari hatinya para pengkaji kitab tarajumah.”

Kalau Rifaiyah berfungsi sebagai penghalang kebenaran. Kalau ia sebagai rumah yang menghalangi semburat kebenaran cahaya matahari. Kalau ia menjadi sekat dalam hati yang menahan ramahnya wajah kepada ‘orang lain’  maka apa bedanya Rifaiyah dengan berhala? Kalau Rifaiyah dijadikan segalanya hingga menutupi kebenaran yang datangnya dari Allah dan Rasulullah.

Bagaimana tidak berhala, karena endapan doktrin rifaiyah mengalahkan datangnya kebenaran dari Allah dan Rasulullah yang menyuruh manusia untuk mencintai sesamanya laksana mencintai dirinya sendiri. Untuk berbuat baik kepada siapapun, bahkan kepada orang-orang musyrik. Kepada siapapun, bahkan kepada anjing. Kalau anjing saja bisa menuntun pelacur ke sorga, apalagi manusia.

Rifaiyah bukan ajaran penyempitan manusia untuk bergaul dengan sesamanya, dan dengan alam semesta ini. Kalau memang menyempitkan dalam benak maka kembali dan perluaslah membaca kajian kitab karangan KH. Ahmad Rifai yang sungguh luas itu. Karena jangan-jangan nafsu kitalah yang menuntun pemahaman kita atas petunjuk yang telah diguratkan dalam kitab tarajumah. Yang jelas Syeikh Rifai mengguratkan ojo iman anut ing adat, luru benere iman anut ing syariat 

Paesan Tengah, 13 Januari 2011

Ahmad Saifullah

Syarikhul Iman




[1]Peringatan inilah kitab yang bernama Syarikhul Iman. Kitab terjemah Bahasa Jawa oleh KH. Ahmad Rifa’I ibn Muhammad, bermadzahab Syafii, dan thariqahnya Ahlussunah. A’laam wabillahi taufiq.
Bismillahirrahmaanirrahiim

Bab, inilah bab di dalam menerangkan Iman dan Islam. Iman itu berarti mempercayai kepada segala hal yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW. Sedangkan artinya Islam itu menjalankan perintahnya Allah dan menjauhi dari larangan Allah taala. Dan ada orang yang sah imannya di dalam akherat nanti, tetapi dia tidak Islam di dalam dunia (tidak mengucapkan syahadat-pen). Dan tidak sah Islamnya orang di dunia ketika di akherat, kalau di dalam batinnya tidak beriman. Orang semacam itu dinamakan Islam menurut anggapan manusia (Islam Inda Allah), dan kafir menurut anggapan Allah taala. Seperti Islamnya orang kafir munafiq: dia mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadat tauhid dan syahadat Rasul), tetapi di dalam hatinya dia tidak beriman.

Rukunnya Iman itu ada enam perkara yaitu, beriman kepada Allah, dan beriman kepada semua malaikat Allah, dan beriman kepada semua kitab Allah, dan beriman kepada semua utusan Allah (Rasul Allah), dan beriman kepada hari akherat yakni hari kiamat, dan mengimani ketetapan baik maupun jelek (qodlo dan qadar) dari Allah (taala).[2] Syaratnya iman itu di dalam hatinya harus menerima sesuatu yang datang dari Rasul Allah, dalam arti ia harus mencintai dan tidak boleh ada perasaan membenci kepada hukum Allah dan hukum Rasulullah. Hal itu berlaku bagi hukum perintah atau larangan. Perintah berupa: wajib, sunah, dan larangan berupa: haram atau makruh.

Ada dua perkara yang membatalkan iman, pertama, bimbang hatinya kepada salah satu ajaran yang datangnya dari Rasulullah. Kedua, benci hatinya terhadap salah satu ajaran yang didatangkan dari Rasulullah, maupun ijma yang sudah maklum diperlukan. Perilaku orang Islam itu adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa di bulan ramadhan, dan pergi haji kalau mampu di perjalanannya. Rukun Islam yang mengabsahkan keislaman seseorang secara lahir itu cukup mengucapkan dua kalimat syahadat. Tidak jadi batal Islamnya seseorang, apabila dia meninggalkan kewajiban shalat lima waktu, shalat jumat, meninggalkan menunaikan zakat, dan juga meninggalkan puasa bulan ramadhan dan pergi haji.

Adapun dalilnya yang mengatakan bahwa iman itu cukup keyakinan di hati saja adalah sebagaimana ucapan ulama:

وَفَسَّرَ الْاِيْمَانَ بِاالتَّصْدِيْقِ وَالنُّطْقُ فِيْهِ خِلْفٌ فِىْ التَّحْقِيْقِ

Yakni, Ulama telah menjelaskan tentang masalah iman yaitu keyakinan hati saja dan cukup mengucapkan dua kalimat syahadat di dalam hatinya. Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hakekatnya iman. Dan terutama pendapatnya ulama Asy’ari dan Maturidi dan selainnya berpendapat bahwa iman itu adalah kerelaan hati untuk meyakini segala hal yang datang dari Rasulullah, serta hatinya kukuh, walaupun dia secara lisan tak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat, dia dikategorikan sebagai orang yang sah imannya di akherat nanti. Adapun mengucapkan dua kalimah syahadat itu menjadi syarat sahnya Islam di dalam hukum syariat duniawiyah.
Adapun dalilnya adalah ucapan sebagian ulama Ahli Sunni:

فَمَنْ تَصَدَّقَ بِقَلْبِهِ وَلمَ يُقِرَّبِلِسَانِهِ لَا لِعُذْرٍ مَنَعَهُ وَلَا لِأَبَاءِ بَلِ اتَّفَقَ لَهُ ذَالِكَ فَهُوَ مُؤْمِنٌ عِنْدَ اللهِ غَيْرُ مُؤْمِنٍ فِىْ أَحْكَامِ الشَّرْعِ الدُّنْيَوِيَةِ

Yakni, Siapapun orangnya yang meyakini dengan sepenuh hati kepada hal yang datangnya dari Rasulullah dan tidak ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat bukan karena udzur, dan bukan karena dia Islam keturunan, maka dihukumi bagi orang itu kafir secara lahir. Maka bisa juga dinamakan dia mukmin menurut pandangan Allah, tetapi tidak dikatakan mukmin dihadapan manusia di dalam hukum syariat duniawiyah.

وَمَنْ أَقَرَّ بِلِسَانِهِ وَلم يُصَدِّقْ بِقَلْبِهِ كَالْمُنَافِقِ فَالْعَكْسُ حَتَى عَلَى بَاطِنِهِ فَحُكِمَ بِكُفْرِهِ

Yakni, siapapun orangnya yang berikrar secara lisan dengan kedua kalimat syahadat dan tidak meyakini dengan sepenuh hati (kepada ajaran yang datang dari Rasulullah), hal semacam itu sebagaimana perilaku orang kafir munafik, maka orang tersebut dihukumi Islam menurut pandangan manusia, tetapi kafir menurut pandangan Allah, sampai kita melihat kekafiran dalam batin orang itu, maka orang itu bisa dihukumi kafir.

وَاعْلَمْ اَنَّ مَنْ مَاتَ عَلىَ كُفْرٍ فَهُوَ مُخَلَّدٌ فِىْ النَّارِ وَمَنْ مَاتَ عَلَى الْاِيْمَانِ اِنْ كَانَ تَسْلِيْمًا مِنَ الْمَعَاصِىْ أَوْتَائِبًا فَفِى الْجَنَّةِ وَلَايَدْخُلُ فِى النَّارِ قَطْعًا

Yakni, ketahuilah bahwa sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan kafir, maka dia kekal di dalam neraka, dan apabila dia mati dalam keadaan beriman, dalam arti dia selamat dari berbagai macam maksiat, atau dia berbuat maksiat tetapi sudah bertaubat, maka dia akan kekal di dalam sorga, dan dia tidak akan masuk ke dalam neraka sekalipun.

وَاِنْ كَانَ عَاصِيًا وَمَاتَ مِنْ غَيْرِ تَوْبَةٍ فَهُوَ فِىْ مَشِيَّةٍ اللهِ اِنْ شَاءَ عَذَبَهُ فِىْ النَّارِ جَهَنَّمَ بِقَدْرِ الذَّنْبِ وَلَا يَخْلُدْ فِيْهَا فَاءِنْ شَاءَ عَفَى

Yakni, jika ada orang mukmin yang durhaka, dan mati sebelum tobat, maka nasibnya dalam ketentuan Allah: apabila Allah menghendaki untuk menyiksanya, maka orang itu akan disiksa di dalam neraka jahanam sampai dosanya lebur, dan dia tidak kekal di dalam neraka. Dan apabila Allah berkehendak mengampuni orang itu, maka Allah memberikan pengampunan kepadanya.

Peringatan, ada penjelasan lagi yaitu bagi orang yang mati kafir, maka Allah taala pasti akan menyiksanya. Dia akan kekal di neraka menurut hukum ajaran syariat dan menurut hukum akal, Allah bisa saja mengampuni, tetapi tidak wuqu. Adapun orang mukmin yang melakukan dosa besar dan dia mati dalam keadaan belum tobat, maka boleh saja Allah menyiksa atau mengampuninya, di dalam hukum syariat atau hukum akal, tetapi lazimnya dia akan disiksa, yakni sangat jarang pengampunan baginya. Apabila orang tersebut (dalam hidupnya) tak pernah beribadah sama sekali, maka naif untuk mendapat pengampunan apalagi tanpa taubat. Adapun orang mukmin yang tidak melakukan maksiat dosa besar, tetapi berbuat dosa kecil sebelum dia bertobat, maka Allah boleh saja menyiksanya, menurut pandangan hukum syariat atau hukum akal. Tetapi lazimnya dia akan diampuni dosanya oleh Allah, dan sedikit kemungkinan Allah akan menyiksanya.

Adapun orang mukmin yang tidak melakukan maksiat dosa besar dan kadang bebuat dosa kecil dan tidak melanggengkannya. Dia mati tetapi sebelum melakukan tobat, maka boleh saja Allah menyiksanya dalam hukum syariat maupun hukum akal, tetapi lazimnya diberi ampunan, dan jarang Allah akan menyiksa karena sudah ada keterangan diampuni dosa kecil sebab ia telah menjauhi maksiat dosa besar. Atau diampuni sebab ibadah dengan ikhlas wallahu ‘alaam.

Qaidah: orang yang kekal di dalam sorga itu adalah orang mukalaf yang beriman, dan manusia yang tidak mukallaf. Adapun orang yang kekal di dalam neraka itu orang yang mati dalam keadaan kafir. Dan menjadi kekal di dalam sorga orang yang tidak kafir dan tidak beriman, sebagaimana orang yang mati pada zaman fitrah, dan orang yang meninggal pada zaman belum kedatangan dakwah, dan meninggal pada waktu masih bocah (belum baligh), atau ia sudah baligh tetapi gila sejak dia masih anak-anak, kemudian juga orang yang buta dan tuli sejak dia masih anak-anak, dan seupamanya itu semua, yang tidak keperdi oleh syariat, dalilnya jarang adanya pengampunan dari dosanya, selamat dari siksa untuk orang mukmin yang mati maksiat menanggung dosa besar sebelum sampai tobat. Yaitu ucapannya ulama

وَلَيْسَ مِنَ الرَّجَاءِ النَّافِعِ اَنْ يَتَّبِعَ هَوَي النَّفْسِ وَهُوَ سَاتِهَا وَيَتْرُكَ الْمَأْمُوْرَاتِ وَيَرْتَكِبَ الْمُنْهِيَاتِ وَيَقْتَضِيْ النَّجَاتِ بِغَيْرِ التَّوْبَةِ وَالْحَاقُ بِالصَّالِحِيْنَ فَمِثْلُ هَذَا مَنِ التَّبَعَ اِبْلِيْسَ وَاِسْرَاَئهُ وَهُوَ فِيْ مُعْرِضِ الْعَذَابِ وَالْعُقُوْبَةِ وَالْخُسْرَةِ وَالنَّدَامَةِ

Yakni, dan tak usahlah berharap terhadap ampunan, seandainya seorang masih menuruti hawa nafsunya, dan berbuat seenaknya menuruti kehendak hawa nafsu. Dan orang itu meninggalkan perintah-perintah wajib; melakukan larangan-larangan haram, dan orang itu menghendaki selamat dari siksa dengan tanpa tobat, dan bisa sederajat dengan orang-orang shalih. Maka kehendak semacam itu laksana orang yang mengikuti kelakuannya iblis dan gerombolannya iblis, dan orang itu disediakan siksa di dalam akherat yang sangat menyiksa. Ia rugi dan kasihan yang tak bermanfaat kasihannya. Dan juga firman Allah di dalam al-Qur’an al-Adzim.

وَأَنِيْبُوْااِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَاتُنْصَرُونَ

Yakni dan tobatlah kalian semua kepada Tuhan kalian, dan pasrahlah kalian kepada Allah, sebelum kalian kedatangan siksa. Kalau sudah datang siksa di dalam akherat, maka jangan berharap kalian menemukan pertolongan. Telah menjadi pengetahuan bersama dalam kalam ulama dan di dalam al-Qur’an sebagai dalil lazimnya orang disiksa di dalam akherat karena melakukan dosa besar dan belum sempat tobat. Dan malah dikhawatirkan akan menjadi kufur, karena mereka melakukan perbuatan dosa dengan enteng. Ulama mengatakan:

لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مُقَدَّمَةُ الْكُفْرِ

Yakni sesungguhnya perbuatan maksiat itu menjadi pembukaannya kufur. Dan kita ketahui keterangan sebagian ulama yang mengatakan bahwa maksiat dosa kecil itu menjadi penarik maksiat dosa besar, dan orang yang melakukan maksiat dosa besar itu bisa menarik maksiat dosa kufur.

Dan dapat dipahami, sebabnya perbuatan maksiat itu bisa menarik kepada kekafiran orang yang cenderung senang hatinya untuk melakukan perbuatan maksiat. Kekafirannya itu disebabkan karena mengingkari dari keharaman, atau tenang (tidak menolak) dari neraka. Dan adakalanya kekafirannya sebab benci hatinya kepada amar ma’ruf nahi munkar. Dan lazimnya orang yang ahli maksiat itu sungguh hatinya benci kepada segala bentuk perbuatan mencegah maksiat, padahal perbuatan pencegahan itu datangnya dari Allah taala, sedangkan syarat sahnya iman itu harus menerima dan cinta kepada semua hukum Allah dan hukum Rasulullah. Adapun dalilnya menerima dan cinta terhadap agama itu menjadi syarat sahnya iman sebagaimana ucapan ulama

وَاعْلَمْ اَنَّ شَرْطَ الْاِيْمَانِ التَّسْلِيْمُ وَالْاِنْقِيَادُ بِدَلِيْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى فَلَا وَرَبِّكَ لَايُؤْمِنُوْنَ حَتىَ يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِىْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًامِمَّاقَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا

Yakni, tahulah engkau, sesungguhnya syaratnya iman itu pasrah dan tunduk, juga cinta hatinya kepada hukum Allah dan hukum Rasulullah, dalil semacam itu bersandar kepada Firman Allah taala. Maka demi Tuhan mu wahai Muhammad, mereka semua tidak percaya, sehingga mereka meminta (ketetapan) hukum kepada Mu di dalam permasalahan yang menjadi pertentangan di antara mereka. Maka sekiranya mereka tidak menemukan dalam hatinya kebimbangan dan tidak benci hatinya kepada sebagian apa yang telah Engkau hukumi. Orang-orang itu pasrah, cinta hatinya dengan pasrah mengikuti.
Dan ada orang kafir itu iman dan cinta hatinya di dalam bab tauhid kepada Allah taala. Dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah dalam al-Qur’an al-adzim.

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

Yakni, demi Allah seandainya kamu bertanya Muhammad kepada orang kafir: “siapa yang menciptakan langit dan bumi. Niscaya mereka orang-orang kafir akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Az-Zuhruf, 43: 9).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللهِ

Yakni, demi Allah seandainya kamu bertanya Muhammad kepada orang-orang kafir: “siapa yang menciptakan manusia. Niscaya mereka orang-orang kafir akan menjawab: “Allah yang menciptakan.”

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

63. dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, yang menurunkan air hujan dan yang menumbuhkan bumi yang mati. (Al-’Ankabuut, 29: 63)

فَلَمَّا جَاءتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْماً وَعُلُوّاً فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Maka tatkala ayat-ayat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka orang-orang kafir, maka berkatalah orang-orang: “Inilah ayat Qur’an adalah sihir yang nyata”. Dan mereka mengingkari ayat-ayat Qur’an karena kezaliman dan kesombongan (mereka). (An-Naml, 27:13 - 14).

Para kafir itu menghina kepada hukum agama Islam. Dan tampaknya telah dipahami dalil ayat Qur’an yang telah disebutkan di depan, kadang ada orang kafir yang percaya dan simpatinya terhadap sebagian hukum agama Islam karena bertujuan untuk memenuhi kehendak hawa nafsunya: seandainya hukum Allah dan hukum Rasulullah itu bisa membantu kemanfaatan duniawiyah. Dan orang-orang kafir mengingkari kepada hukum agama Islam yang diridloi oleh Allah taala, yang bermanfaat di dalam akherat. Secara lahir orang-orang kafir itu benci terhadap larangan-larangan Allah taala yang mencegah maksiat: minum arak, atau zina, judi, gegamelan dan wayang, dan maksiat sejenis hal itu yang mereka cintai.

Peringatan. Tidak ada bedanya kekafiran orang-orang yang mengingkari dan benci kepada keseluruhan hukum agama Islam dengan kekafiran orang-orang ahli ibadah yang ingkar dan benci terhadap satu hukum agama Islam yang sudah jelas kebenarannya hukum itu dari Allah dan Rasulullah. Seperti orang yang ingkar atau benci kepada hukum Allah (berupa) amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran) yang diwajibkan oleh syariat, juga perbuatan amar (ma’ruf) dan nahyun (munkar) itu sudah nyata sebagai tindakan (dalam ajaran) agama Islam yang dalilnya sudah disebutkan di dalam Qur’an kalamullah dan hadist ucapannya Nabi dan ijma ulama. Hal itu disampaikan kepada hukum kewajiban amar ma’ruf wanahy anil munkar dengan wajib fardlu kifayat dan adakalanya fardlu ‘ain. Juga termasuk sebagian dari lebih besarnya pedoman agama Islam, karena kebencian ahli ibadah yang termasuk dalam bid’ah pasiq kepada perintah hukum agama Islam.

Allah taala mewajibkan amrun bil ma’ruf wanahyun ‘anil munkar dan apabila anda butuh mengetahui kepada kejelasan hukum amru bil ma’ruf wanahyun anil munkar yang lebih banyak pembicaraannya maka lihatlah kitab yang bernama Nasihatul Awam terjemahan bahasa jawa oleh Haji Ahmad Rifa’i ibni Muhammad dari Jawa. (Kitab ini) menyatakan tentang amar ma’ruf wanahy munkar.

sumber: www.tanbihun.com
penerjemah: Ahmad Saifullah

JAM'IYAH RIFAIYAH AKAN KEMANA?



Rifaiyah

Kata Rifaiyah diambil dari lafadz akhir nama seorang Kiai di Jawa Tengah yang bernama KH. Ahmad Rifa’i. Banyak orang mafhum bahwa KH. Ahmad Rifa’i pendakwah ulung, penulis produktif, dan meninggalkan banyak murid yang kemudian menyebar menjadi cikal bakal terbentuknya Jam’iyah Rifaiyah. Kemudian kalau disebut sebagai jamaah Rifaiyah yang dimaksud adalah santri, pengikut, murid KH. Ahmad Rifai. Dan kalau disebut sebagai Jam’iyah Rifaiyah cenderung merujuk kepada organisasi kemasyarakatan yang bernama Rifa’iyah.

Kita harus sadar bahwa Rifaiyah dan ormas-ormas lain mempunyai latar belakang berbeda. Sebelum ada organisasi rifaiyah telah menjadi jamaah. Jamaah ini adalah kesatuan perasaan dan nasib karena mereka adalah sesama murid yang mempertahankan ajaran-ajaran gurunya. Dan mereka secara alami telah melakukan kegiatan-kegiatan agama, pendidikan, sosial dan kebudayaan. Berbeda dengan Muhammadiyah yang ceplok lahir ke dunia dengan jabang bayi organisasi, kemudian menyusul bergabungnya orang-orang menjadi jamaahnya.

Rifaiyah sebagai organisasi lahir jauh sepeninggal guru besarnya KH. Ahmad Rifai. Kalau NU, Muhammadiyah dilahirkan dan dibentuk oleh ‘tokoh hulunya’ yang bernama KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan. Sedangkan Rifaiyah dilahirkan oleh muridnya santri KH. Ahmad Rifai, atau para penulis biasa menyebut sebagai ‘murid angkatan ke tiga.’nya KH. Ahmad Rifa’i. Dapat dimengerti bahwa Rifaiyah NU dan MD lahir karena kebutuhan manajemen kebersamaan dalam mengelola kebutuhan lahir batin manusia. Rifaiyah lahir juga sebagai bentuk persatuan untuk menghadapi klaim-klaim salah dari orang lain. Jamaah Rifaiyah butuh legalitas, butuh rumah organisasi Rifaiyah agar ia bisa bernaung tak diterpa angin yang tak bersahabat.

Surat Keputusan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Nomor: 12 tahun 1981 tentang pelarangan pengamalan santri alim adil, nama lain dari jamaah Rifaiyah merupakan salah satu angin yang tak bersahabat itu. Tak hanya SK Kejaksaan Tinggi itu yang menjadi keresahan bersama warga Rifaiyah, tetapi persepsi dan penulisan salah tentang KH. Ahmad Rifai dalam serat cebolek, juga klaim yang terjadi di masyarakat, misalnya ungkapan-ungkapan“mbudiyah yen mati dadi celeng,” (orang Rifaiyah kalau meninggal dunia akan berubah menjadi babi.) “nduwur kudung ngisor warung” (kepalanya dibalut kerudung, tetapi kelaminnya dijual belikan layaknya warung). terus anggapan Rifaiyah bukan bagian dari Islam sempat  membuat gerah warga Rifaiyah. Pendiskreditan warga Rifaiyah ini juga sempat memantik konflik antar golongan, diantaranya terjadi di Meduri Tirto, Paesan Kedungwuni, Demak, Wonosobo.

Sering juga beberapa ulama mengklaim Rifaiyah Tarajumah sebagai gerakan sempalan, aliran sesat, kelompok yang perlu mendapatkan pembinaan dll. Menghadapi fitnah itu jamaah Rifaiyah mengonfirmasinya diantaranya melalui Seminar Nasional yang diselenggarakan di Balai Kajian Sejarah Yogyakarta, dan Festival Istiqlal 1991 di Masjid Istiqlal Jakarta.
Asbabul wurud kelahiran organisasi Rifaiyah berawal dari kegelisahan seorang pengikut juga sekaligus Kiai Rifaiyah di Pekalongan yang bernama Kiai Ahmad Nasihun Bin Abu Hasan. Suatu ketika Kiai Nasihun gelisah memikirkan ketiga anak didiknya yang beliau sebar ke tiga Pondok Pesantren. Pada bulan syawal, masa liburan pondok ketiga anak didik Kiai Kharismatik ini didudukkan bersama oleh sang Kiai. Kiai menanyakan perihal hukum rokok. Ketiganya menjawab dengan jawaban berbeda: Mubah, Haram dan makruh. Dengan perbedaan jawaban itu membuat pelopor penerbitan kitab tarajumah dengan mesin cetak ini gelisah. Ikhtilaf kalau tidak dikelola akan menjadi khilafiah. Perbedaan tanpa dimanajemen akan membuat perpecahan. Perbedaan akan berpotensi menjadi: walau seakan badan kita dekat, tapi hati kita berpecah belah (tahsabuhum jamian wa qulubuhum syatta).

Muncullah ide membuat syarikat, semacam yayasan yang bisa menyatukan potensi beragam masyarakat Rifaiyah. Ide itu digulirkan Kiai Ahmad Nasihun kepada sahabatnya sekaligus muridnya Kiai Hambali Tanahbaya Randudongkal Pemalang. Kiai Hambali merangkul teman seperjuangannya yang lebih tinggi mengenyam pendidikan formal, Kiai Tjarbin sekaligus diamanati untuk menjadi ketua Yayasan. Kemudian dibentuklah Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah pada 7 Mei 1965 M/ 7 Muharram 1384 H. Tahun sekitar 1965 dalam sejarah nasional dikenal sebagai tahun ‘geger PKI’ jadi kemungkinan berdirinya Yayasan bagian dari respon menghadapi penyusupan nilai-nilai komunisme. Hal ini perlu dilacak.
Tahun 1990 Dr. Kuntowijoyo mengulas tentang Serat Cebolek di Jurnal Ulumul Qur’an dengan tulisan berjudul “Serat Cebolek dan Mitos Tentang Pembangkangan Islam”. Kita tahu bahwa serat Cebolek adalah karya sejarah yang membohongi setiap pembacanya karena kepentingan kekuasaan. Serat Cebolek yang ditulis oleh Raden Pandji Djajasoebrata camat Magetan yang sedang berada di Semarang pada 1892. Serat Cebolek ini merujuk kepada naskah induknya milik Raden Adipati Pandji Soerdjakusuma, pensiunan bupati Semarang. Serat Cebolek berisi cerita perdebatan KH. Ahmad Rifai dengan Haji Pinang. Dalam perdebatan tentang fikih islam, diantaranya tentang jumatan KH. Ahmad Rifai mengalami kekalahan fatal bahkan digambarkan dalam serat fitnah ini sebagai “ayam jago licik yang tak berharga”.
Pemuatan tulisan Kuntowijoyo sempat meresahkan santri-santri tarajumah. Sehingga beberapa warga Rifaiyah mengirimkan tulisan konfirmasi ke Jurnal Ulumul Quran (UQ) yang waktu itu UQ dipimpin oleh Dawam Rahardjo. Menanggapi geliat warga Rifaiyah, jurnal Ulumul Quran yang diwakili oleh Saefuddin Simon bersama Masyarakat Sejarawan Indonesia Yogyakarta, Balai Kajian Sejarah mengajak warga Rifaiyah untuk menggagas Seminar Nasional Pembaharuan Islam Abad XIX Gerakan KH. Ahmad Rifai: Kesinambungan dan Perubahannya. Seminar nasional merupakan jendela bagi kajian KH. Ahmad Rifai dan Rifaiyah dilihat dan diteliti oleh insan akademik. Walaupun pra seminar beberapa sarjana juga sudah membuat karya tulis tentang KH. Ahmad Rifai dan Rifaiyah, seperti Sejarawan sekaligus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Adabi Darban, dll. Seminar Nasional juga mengusulkan agar segera mungkin warga Rifaiyah membentuk organisasi kemasyarakatan. Maka sebenarnya tak bisa diingkari motivator berdirinya Ormas Rifaiyah adalah para pakar Muhammadiyah juga. Karena pemakalah pada Seminar Nasional ada beberapa yang dari Muhammadiyah, walaupun mereka tidak menampakkah identitas golongannya sama sekali. Mereka semua berbicara atas nama ilmuwan.

Tindak lanjut dari Seminar Nasional, pada bulan desember 1991 dibentuklah organisasi kemasyarakatan Rifaiyah menggantikan Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah. Diantara deklarator berdirinya Organisasi Rifaiyah adalah KH. Ahmad Syadzirin Alm, KH. Mukhlisin Muzarie, dan siapa lagi ya....agaknya kopi ini kudu di sruput lagi...sruuuuup....
Bersambung

Sumber: Kliping-kliping Susunan KH. Ahmad Syadzirin Amin dari 1981 - 1991
Senin, 7 Rajab 1433 / 28 Mei 2012
Ahmad Saifullah Ahsa

Langkah Meneladani Produktifitas KH. Ahmad Rifa’i




Sudahkah kita meneladani KH. Ahmad Rifa’i? Jawabannya ada di benak para pengikut setianya. Mari kita runut keteladanan KH. Ahmad Rifai. Mbah Rifa’i seorang penulis kitab produktif hingga beberapa fersi mengatakan, karangannya mencapai 64 kitab. Sedangkan kita hanya penulis SMS. Sebagian besar SMS itu sampah. Hingga tulisan kita tak beratsar alias mubadzir.

Tulisan Mbah Rifa’i menyadarkan manusia Jawa khususnya untuk beribadah sesuai ketentuan syariat. Maka tak heran kalau dulu orang-orang Rifa’iyah disebut Mbudiyah, kata ini berasal dari Ubudiyah atau bermakna orang-orang yang mementingkan ibadah mahdlah. Karena memang ibadah sunah tidak dibahas dalam kitab-kitab KH. Ahmad Rifai. Hingga pada akhirnya pengikutnya sangat mementingkan ketelitian detil rukun ibadah. Efek negatifnya tak jarang rasa was-was menghantui orang-orang yang sangat hati-hati ini dalamngarekso aksoro dan ngarekso lainnya. Dalam mengucapkan bismillah ‘seorang yang hati-hati’ tentu akan mengulang-ulang kata “bis...bis...bis....” hingga imam selesai shalat, bisnya tak datang-datang, walau berberapa kali dipanggil-panggil. Tetapi efek positifnya adalah ibadah dengan panduan ilmu, hingga keyakinan hati mengatakan bahwa ibadah yang dilakukannya sah.

Tulisan kitab KH. Ahmad Rifa’i mempunyai bobot perjuangan yang tak mudah. Menurut salah satu riwayat , waktu itu kertas menjadi monopoli pemerintah Hindia Belanda, apalagi tinta. Sehingga untuk mendapatkan kertas seseorang harus berjuang menemukannya dengan membeli secara sembunyi-sembunyi dari pedagang Cina.

Untuk menulis kitab butuh ilmu yang sudah nyantol dalam hati. Alias tak bisa mengutip satu katapun dari kitab. Karena setiap Haji dicurigai membawa ajaran yang akan membangkitkan semangat kemerdekaan bagi rakyat Nusantara. Hingga semua kitab oleh-oleh dari Timur Tengah akan di tahan oleh pihak pemerintahkafir. Mbah Rifai menulis dengan keterbata-bataan, karena waktu itu tentu hanya temaram sentir yang bisa menemani. Cagak listrik belum dibuat, apalagi kabel dan bolamnya. Coba bayangkan itu....sambil sruput kopi...sedot samsumu....bull...

Sekarang segalanya serba mudah. Kertas, tinta, komputer, mesin ketik, laptop dan segala macam perangkat menulis bukan hal yang sulit. Fasilitas yang sedemikian mendukung itu tak musti menjadi kita produktif dan kreatif. Kita patut bertanya pada diri sendiri, Sudah berapa tulisan kah yang lahir dari buah tangan dan fikiran kita? Pantaskah kita mengaku sebagai pengikut dan murid KH. Ahmad Rifai sedang kita tak pernah meneladani aktivitas yang paling mendominasi dalam kehidupan Mbah Rifai itu: yakni menulis.

Dalam rentang sejarah bapak-bapak kita selalu diceritakan mereka adalah penulis tangan kitab-kitab Mbah Rifa’i. Tetapi menurut saya mereka bukan menulis dan tak bisa dijuluki penulis, tetapi penyalin. Aktivitasnya seperti apa yang dilakukan mesin foto copi. Tak lebih dari itu.

Kita sekarang memasuki rentang kemandulan yang panjang. Kita adalah manusia-manusia konsumtif, sebatas pembaca kitab dan menyampaikannya. Kita tak pernah berfikir melangkah untuk menulis kitab, memikirkan ulang isi kitab, atau menerjemahkannya kedalam bahasa populer, atau lebih kecil dari itu, sekedar menulis catatan harian. Itu peniting!
Secara natural manusia adalah makhluk kreatif. Kreatif itu seperti nasi yang masuk melalui organ pencernaan, hingga makanan yang kita telan menjadi terpisah-pisah. Ada yang menjadi zat yang dibutuhkan tubuh: glukosa, vitamin, protein, dll. Ada yang menjadi ampas tinja yang harus dibuang kekolong WC. Seandainya kita membaca kitab dan menyampaikannya apa adanya seperti dalam kitab, itu laksanan kita makan nasi, pagi-pagi keluar nasi lagi dari dubur. Seharusnya masuk putih, keluar kuning. Alias tidak ada proses kreatifitas pencernaan.

Kita tak mau menulis, padahal bisa dan mampu. Coba kita hitung berapa tahun sudah jeda waktu kemandulan murid-murid Mbah Rifai, sampai kita menemukan murid penulis seperti KH. Khaeruddin Khasbullah, KH. Yahya Dahlan, KH. Ahmad Syadzirin, KH. Mukhlisin Muzarie. Sudah berapa generasi yang tak menulis. Dan Setelah para penulis itu? Tak ada kesinambungannya lagi. Tak ada kemunculannya lagi. Tak ada kemauannya lagi. Dari kita-kita untuk menulis dan mengawali nulis dengan sekedar menulis catatan harian. Tolong Mbah Rifai tetap golongkan kami dibelakang barisanmu, walau kami belum meneladani Mu.

Langkah-langkah
Bagi generasi muda yang mempunyai gairah untuk membangkitkan kembali semangat dan praktek menulis bisa menempuh jalan yang mudah. Adakanlah majalah dinding di manapun tempatnya. Bisa di mushola, masjid, sekolahan. Saya sudah pernah mencoba di diniyah Al-Hidayah Menjangan. Ternyata teman-teman belia sangat produktif dan kreatif. Mereka dalam waktu tiga hari sudah bisa mengumpulkan Puisi, Cerbung, Sekapur Sirih, wawasan dan pengetahuan dan kreasi madingnya memikat penuh warna dan hiasan yang sesuai.

Yang menjadi kendala bagi teman-teman belia adalah bahan bacaan. Kaitannya dengan pernyataan ‘tidak pernah membaca, tidak bisa menulis.’ Maka dirasa perlu untuk mengadakan koleksi buku yang bisa menjadi bahan bacaan dan nutrisi batin mereka. Langkahnya sebenarnya cukup mudah. Buatlah surat permohonan peminjaman paket buku atas nama perpustakaan mushola, sekolah, masjid, TPQ, Diniyah yang ditujukan kepada Perpustakaan Daerah. Jadi modalnya cukup stempel perpustakaan tempatmu dan selembar surat permohonan yang dimasukkan amplop. Tahap pertama, kita akan mendapatkan pinjaman lunak dari Perpustakaan Daerah sebanyak 50 judul buku untuk waktu satu sampai tiga bulan. Judul buku sesuai selera kita. Kalau masa uji coba kepercayaan bisa dilewati, maka bulan-bulan mendatang kita akan mendapatkan 150 judul buku.

Tentu Perpusda sangat bersyukur, karena dapat dibantu mengurangi beban perpustakaan keliling yang seharusnya tiap bulan menjangkau desa kita.  Saya sudah beberapa kali memfasilitasi proses pembuatan perpustakaan gratis semacam ini. Problemnya adalah kita tidak bisa menjaga amanah buku-buku yang dipinjamkan, sehingga pihak perpusda kapok meminjamkan bukunya. Dari satu tangan bisa dipinjamkan ke beberapa tangan. Hingga ketika waktu pengembalian sudah tiba. Buku tak terlacak rimbanya. Harus ada penanggung jawab dan ketegasan: hilang satu buku denda dua buku.

Tidak sekedar membaca dari buku pinjaman. Perlu ada diskusi dari kelompok baca, untuk membagi pengetahuan dari hasil bacaan. Setelah itu unek-unek, atau sekedar rangkuman dari hasil bacaan ditulis untuk mading. Setiap pembaca mendapatkan buku gratis, tetapi harus dikasih tugas untuk merangkum semampunya hasil dari bacaannya.
Tidak hanya perpusda yang sanggup kita ajak kerjasama, dari perpustakaan perpustakaan masyarakatpun sangat senang dipinjami buku secara paket. Contoh perpustakaan mandiri terbuka ini adalah taman bacaan Sahara. Semua perpustakaan yang kita temui, juga perpustakaan sekolah kita ajak kerja sama dalam menggalang kegiatan yang bisa merangsang pemuda untuk menulis.

Yang menjadi kendala lain bagi teman-teman muda adalah mereka seringkali seperti dalam sangkar pengawasan ‘para sesepuh.’ Maka harus ada kebijaksanaan dari para sesepuh untuk tidak ‘sedikit-sedikit gak boleh.’ Karena bagaimanapun bentuknya prasangka baik kepada anak muda lebih baik daripada prasangka buruk. Sesuatu yang baru tak harus selalu di suudzani.

 Membaca dan menulis adalah kebiasaan yang diajarkan orang tua sejak kecil. Itu saya rasakan ketika keliling-keliling menjalankan perpustakaan bergilir di Yogyakarta. Saya sempat mendekatkan beberapa orang ke perpustakaan untuk kita rangsang agar gemar membaca. Tetapi sampai tiga tahun, aku hanya bisa menyerah. Karena kebiasaan tiga tahun itu tak mampu membuahkan gemar memabaca bagi teman-teman yang ayah ibunya yang tak mau membaca. Maka bagi orang tua harus diusahakan untuk gemar membaca. Apapun bahan bacaannya asalkan bermanfaat. Demi anak cucu kita agar menjadi pembaca. Karena setiap pembaca lebih banyak potensinya untuk menjadi penulis, karena mempunyai bahan yang bisa ditulis.

Paesan, 3.20 WIB. 26 April 2012.
Ahmad Saifullah
  • Blogger news

  • Blogroll

  • About