Dulu, waktu baru menginjak usia sekolah dasar, tentu kita semua pernah merasakan nikmatnya main layang-layang. Betapa terik menyengat ubun-ubun tak terasa. Keringat yang meleleh melalaikan segalanya. Sampai ku kejar layang-layang di tengah jalan lalu lalang sepeda motor tak ku hiraukan. Semua yang membahagiakan tak digubris oleh hati yang sedang gandrung dengan kertas terbang itu.Tatapan mata selalu berhadapan dengan langit yang biru. Cakrawala yang luas tanpa batas. Membuat pandangan mripat tanpat sekat. Semburat matahari membuat mata menyaksikan keindahan-keindahan yang menakjubkan. Deretan mega-mega yang membentuk berbagai macam goresan. Kadang seperti lafadl Allah, kadang seperti wayang. Aku senang menatap langit tak bertepi itu. Kebiruanmu sungguh indah, kadangkala pula diri langit begitu menyeramkan.
Saat adzan ashar tiba, aku bergegas mengemasi layang-layang. Ingat cubitan Simak kemarin yang masih menyisakan gurat merah. Aku memang bandel. Untuk pergi ke Sekolah diniah saja butuh cubitan cewek. Masih mengganjal juga dihati. Tak mau meninggalkan pekarangan bong cino itu. Di atas ku tatap masih banyak layang-layang bertebaran ‘menggoda iman’.
Kata Simak “menuntut ilmu itu wajib, dan demi kebahagiaan dunia akheratku sendiri.” “apa iya.” Kadang hatiku menyergah. Apanya yang bahagia. Aku makin sengsara aja cari ilmu. Tiap hari di res di depan teman-teman yang selalu meledek dan menertawaiku. Ustadz tak eman lagi melempar kapur, kadang juga penghapus ke arahku. Katanya aku tak boleh guyon. “apanya yang bahagia?” aku bertanya-tanya. “guyon itulah kebahagiaan, buktinya aku bisa tertawa.” Aku berbicara sendiri dalam hati. “tapi kenapa para ustadz melarang kitaguyon. Aneh juga ya katanya ilmu kunci untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akherat.” “tetapi kenapa para ustadz itu gak bisa tersenyum, cemberut terus, kayak orang gak pernah bahagia.”
Eh katanya orang dewasa itu banyak urusan, jadi pantas saja mukanya masam. Semakin tambah umur berarti tambah cemberut dong. Tapi yang jelas wajah mewakili hati. Wajah yang masam berarti hati lagi kelam. Entah lah semakin dewasa seseorang semakin banyak yang dipikirkan. Semakin banyak yang dijumpai, hingga kalau terlena itu semua akan menjadi tabir penghalang bertemunya hamba dengan Tuhannya. Semakin dewasa semakin menjauh dari Yang Maha Dekat.
Aku memasuki rumah. Ruangan dalam rumah kelihatan gelap. Ku raba-raba jalan yang tak terlihat. Tiba-tiba suara manis Simbah menyambut, “nah itu kalau kebanyakan main layangan gitu jadi gelap masuk rumah.” Uh ternyata rumah sumber kegelapan. Langit dan cahaya matahari memancarkan semburatnya sebagai sumber cahaya kehidupan. Cahaya adalah kebenaran. Karena semakin mendapatkan nur, seseorang semakin mendekat dengan kebenaran.
Rumah penghalang buatan manusia yang menghalangi tatapan mata menemukan obyek kebenaran. Rumah adalah sekat yang menabiri masuknya cahaya matahari ke dalam mripat dan lubuk hati. Aku menemukan cahaya saat menatap langit, dan terasa gelap saat memasuki rumah. Itulah yang dialami manusia hingga sekarang.
Waktu bayi aku belum diberi embel-embel apapun. Jadi semua orang bisa menyentuhku, menyayangiku. Ketika bertambah usia. Sekat itu semakin banyak. Hingga orang-orang menjauhiku, bahkan menatap saja tak kuasa dengan alasan ‘bukan mukhrim’. Setelah rumah, ada sekat lagi bernama ruangan, setelah ruang terus kamar. Bersekat yang berlipat menghalangi cahaya kebenaran matahari. Demikian juga kita masuk di organisasi apapun adalah bentuk sekat-sekat yang kalau terlena bisa menjadi penghalang masuknya cahaya kebenaran dalam lubuk hati.
Misalnya kita telah di batasi dengan klaim ‘orang Rifaiyah’ maka klaim itu juga tabir pembatas kemesraan kita dengan warga golongan lain. Baru dinding rifaiyah itu lenyap saat kekeluargaan hubungan kita hanya berstatus sebagai hubungan manusia. Hubungan yang tak memandang golongan, suku, ras, agama sebagai halangan kita untuk mencintai sesamanya.
Rumah yang bernama ‘agama’ pun juga kadang menyempitkan berfikir kita. Kita semua dalam wawasan keberagamaan yang awam, pasti akan melarang orang kristen masuk masjid, dengan alasan takut masjidnya kena najis dan alasan lainnya. Padahal bagaimana mungkin kita tak menerima hamba yang itu juga bagian dari keluarga Allah. Kata Allah dalam hadis qudsinya, bahwa makhluknya adalah semuanya kelurga besar Sang Pengasuh itu.
Sudah maklum juga orang tua kita yang dilahirkan dalam kultur Rifaiyah menolak calon menantu yang ghoiru rifaiyat. Dalam konteks ini bukankah Rifaiyah berfungsi sebagai penghalang datangnya kebenaran yang berbunyi “kalau jodoh itu ditentukan oleh tangan Tuhan, kalau akhlak itu tak ada kaitannya dengan apakah ia Rifaiyah atau bukan. Kalau cinta kasih itu datang bukan hanya dari hatinya para pengkaji kitab tarajumah.”
Kalau Rifaiyah berfungsi sebagai penghalang kebenaran. Kalau ia sebagai rumah yang menghalangi semburat kebenaran cahaya matahari. Kalau ia menjadi sekat dalam hati yang menahan ramahnya wajah kepada ‘orang lain’ maka apa bedanya Rifaiyah dengan berhala? Kalau Rifaiyah dijadikan segalanya hingga menutupi kebenaran yang datangnya dari Allah dan Rasulullah.
Bagaimana tidak berhala, karena endapan doktrin rifaiyah mengalahkan datangnya kebenaran dari Allah dan Rasulullah yang menyuruh manusia untuk mencintai sesamanya laksana mencintai dirinya sendiri. Untuk berbuat baik kepada siapapun, bahkan kepada orang-orang musyrik. Kepada siapapun, bahkan kepada anjing. Kalau anjing saja bisa menuntun pelacur ke sorga, apalagi manusia.
Rifaiyah bukan ajaran penyempitan manusia untuk bergaul dengan sesamanya, dan dengan alam semesta ini. Kalau memang menyempitkan dalam benak maka kembali dan perluaslah membaca kajian kitab karangan KH. Ahmad Rifai yang sungguh luas itu. Karena jangan-jangan nafsu kitalah yang menuntun pemahaman kita atas petunjuk yang telah diguratkan dalam kitab tarajumah. Yang jelas Syeikh Rifai mengguratkan ojo iman anut ing adat, luru benere iman anut ing syariat.
Paesan Tengah, 13 Januari 2011
Ahmad Saifullah



0 komentar:
Posting Komentar